Suatu hari menjelang wafat, ada se'org alim [abah] yg berwasiat kpd anak [gus] semata wayangnya, ''Nak..makanlah yg enak & tidurlah yg enak''. Setelah 'abah'nya wafat 'gus' mncoba mengamalkan wasiat tsb, tp apa yg terjadi?? 'gus' itu justru
menjadi pemalas & bodoh,
kegiatannya hanya makan &
tidur, hingga akhirnya santri yg
semula berjumlah ribuan
menyusut menjadi puluhan.
Apakah 'abah' memang ingin
membodohkan 'gus' atau malah 'gus' yg salah dalam memahami wasiat 'abah'nya?
Apa sebenarnya hikmah yang
terkandung di dalam wasiat itu??
Akhirnya 'gus' itu bingung &
bersedih, "kenapa justru dengan menjalankan wasiat 'abah' diriku menjadi pemalas dan bodoh seperti ini..?!!!" Dengan memeras
otak akhirnya sampailah 'gus' itu pada satu kesimpulan, "aku harus bertanya kepada syeikh fulan, beliau adalah sahabat karib ayahku, aku yakin beliau pastì tahu makna yang sebenarnya dari wasiat 'abah' .
Berangkatlah si 'gus' menemui
syeikh fulan untuk menanyakan
perihal wasiat 'abah'nya.
Sesampainya di rumah si syeikh, gus itu mengungkapkan segala
kejanggalan & kemusykilan yg ia alami akibat dari melaksanakan wasiat abahnya. Bertanyalah si syeikh kepada si
gus,
Syeikh: "Ada apa gus, kok
tumben berkunjung kesini? Wah pasti kamu sudah menjadi alim seperti abahmu"
Gus: "Syeikh, saya tidak seperti
apa yang syeikh kira, saya bukan menjadi pintar dan alim seperti abah, tapi justru malah semakin malas dan bodoh. Dan justru itu, saya dapatkan karena saya menjalankan wasiat abah"
Syeikh: "Kenapa bisa begitu gus? Memangnya abahmu berwasiat apa kepadamu gus?"
Gus: "Saya sendari juga bingung syeikh. Abah cuma berwasiat kepadaku, 'makan dan tidurlah yang enak' "
Syeikh: "Terus apa gus sudah
menjalankan wasiat abah?"
Gus: "Sudah syeikh"
Syeikh: "Apa yang gus pahami
tentang makna wasiat itu?"
Gus: "Saya menjalankan sesuai
wasiat abah, keseharian saya
cuma saya isi dengan makan
makanan yang enak dan tidur
syeikh, tapi kenapa jadi begini?".
Syeikh cuma bisa tersenyum
ramah kepada gus sambil berkata,
Syeikh: "Gus, kapankah makan itu terasa nikmat, meskipun yang kita makan cuma berlaukkan sambel sama tempe dan krupuk?"
Gus: "Saat kita merasa lapar
syeikh"
Syeikh: "Apa selama ini yang gus lakukan? Makan makanan yang enak-enak ataukah merasakan makanan itu terasa nikmat dan enak dengan tidak makan sebelum lapar?"
Gus: "Saya selalu makan
makanan yang enak-enak syekh, tapi meskipun yang saya makan adalah makanan yang enak-enak menurut tabiat manusia, tapi tetap saja saya merasakan makanan itu kurang enak dan saat menyantapnya pun tidak
begitu terasa nikmat"
Syeikh: "Berarti kamu salah
di dalam memahami wasiat
abahmu gus. Abahmu ingin
mengajarkan kamu hidup seperti Rasulullah, "makanlah setelah kamu lapar dan berhentilah sebelum kamu kenyang".
Caranya dengan berpuasa gus.
Kira-kira menurut kamu mana
yang akan terasa enak dan
nikmat, kamu setiap waktu
makan makanan yg enak-enak,
pagi siang sore dan malam selalu makan makanan yang enak ataukah saat pagi siang dan sore kamu berpuasa menahan lapar dan haus, kemudian di saat maghrib kamu berbuka dengan cuma berlaukkan sambel sama
krupuk? Mana yang lebih terasa
enak dan nikmat gus?"
Gus: "Tentunya dengan berpuasa, maka saat berbuka akan terasa enak dan nikmat syeikh"
Syeikh: "Itulah makna
sebenarnya dari wasiat abahmu gus, 'makanlah yg enak' "
Gus: "Jadi rupanya kesalahan
terletak pada diri saya yang
kurang mendalami apa maksud
dari wasiat abah"
Gus: "Lalu apa maksud dari
wasiat abah, 'tidurlah yang enak' syeikh?"
Syeikh: "Maksudnya tidak jauh
berbeda dengan maksud wasiat yang pertama gus"
Syeikh: "Kapankah tidur itu
terasa enak dan nikmat gus?"
Gus: "Tentunya saat mata ini
terasa ngantuk sekali syeikh"
Syeikh: "Kapankah mata terasa
ngantuk gus?"
Gus: "Tentunya dengan
qiyamullail syeikh, dengan
muthola'ah dan mentelaah
kembali pelajaran-pelajaran dan ilmu-ilmu yang telah saya
pelajari dan yang terdapat di
dalam kitab-kitab fiqh dan
lainnya syeikh"
Syeikh: "Tepat sekali gus, wasiat abahmu yang kedua pengen mengajarkan kamu untuk menghidupkan malam-malam dengan qiyamullail, dengan belajar dan sholat
malam, sebagaimana firman Allah, 'Ya ayyuhal muddattsir,
qum fa andzir, warobbaka fa
kabbir..' "
Syeikh: "Juga sebagaimana
firman Allah, 'Ya ayyuhal
muzzammil, qumillaila illa
qolila, nisfahu awinqus minhu
qolila, au zid alaihi warottilil
qur'ana tartila..', 'Fa tahajjad bihi nafilatallaka asa anyab'atsaka robbuka maqomammahmuda'.
Abahmu ingin supaya kamu
menghidupkan malam-malammu gus, tentunya dengan belajar dan sholat malam"
Gus: "Subhanallah, jadi begitukah makna sebenarnya dari wasiat abah?"
Syeikh: "Iya gus, mulai sekarang laksanakanlah wasiat
abahmu itu gus"
Gus: "Jazakumullah ahsanal jaza' syeikh. Saya akan menghidupkan kembali malam-malamku. Kalau begitu saya mohon pamit syeikh. Mohon pangestu syeikh"
Syeikh: "Doa dan pangestuku
bersamamu gus". Gus,
ingat dan pahamilah setiap
nasehat dan hikmah dengan
benar, mungkin di dalam nasehat yang kelihatannya
sepele, terdapat makna yang
mendalam sebagaimana wasiat
abahmu itu gus"
Gus: "Terimakasih syeikh, saya
akan selalu mengingat-ingat
nasehat yang syeikh berikan
kepada saya". Saya pamit dulu
syeikh"
Syeikh: "Silahkan gus"
Gus: "Silahkan kalau ada waktu
luang, mampir ke gubug saya
syeikh"
Syeikh: "InsyaAllah gus"
Gus: "Assalamualaikum.."
Syeikh: "Wa alaikumussalam.."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar